oleh

Petani di Babelan Resah, Pupuk Subsidi Langka

SATU ARAH – Petani di wilayah Kecamatan Babelan menjerit lantaran kelangkaan pupuk dan kesulitan pasokan air di wilayah tersebut.

Diketahui, sekitar 1700 hektar olah produksi pertanian padi dan holtikultura berada di wilayah Kecamatan Babelan.

Kondisi saat ini dikatakan petani di Babelan, harga pupuk subsidi jenis Urea isi 100 kilogram biasanya itu dibeli petani isi 100 kilogram Rp. 250 ribu, tapi yang bukan pupuk subsidi berat 100 kilogramnya seharga Rp.600 ribu.

Dengan demikian kata Khadafi Ketua Gapoktan Bulaksana, Desa Kedung Jaya, karena faktor kebutuhan, petani terpaksa membelinya juga, meskipun pupuk itu terlalu mahal harganya.

“Kalau harga pupuk mahal seperti itu petani pun menjerit, sedangkan hasil panennya saja belum ketahuan,” kata Sain (62) salah satu anggota Kelompok Tani Bulaksana Desa Kedung Jaya, Kecamatan Babelan, Senin (14/9/2020).

“Kita sudah mencari pupuk bersubsidi ke kios-kios resmi mulai dari Babelan sampai ke Tarumajaya tapi itu tidak ada. Bahkan kata dia, hingga saat ini juga tetap tidak bisa didapatkan,” ujarnya.

Hal itu dibenarkan oleh Minggah Sutrisno, Koordinator Penyuluh pada BPP Kecamatan Babelan. Menurutnya, olah produksi pertanian di Babelan pada musim ini sekitar 1700 hektar.

Sisham fungsional Penyuluh dari Kabupaten Bekasi menambahkan pupuk non subsidi itu ada, terkecuali pupuk yang subsidi itu yang tidak ada di sekitar kios-kios resmi.

“Jika pupuk Urea itu tidak ada, kami sarankan kepada petani agar menggunakan NPK karena merupakan pupuk majemuk,” pungkasnya

Kordinator Penyuluh (Korluh) BPP Kecamatan Babelan, Minggah Sutrisno bersama Fungsional Penyuluh Kab. Bekasi Sisham serta Ketua Gapoktan Bulaksana Desa Kedung Jaya, Khadafi saat melihat kondisi tanaman padi dan holtikultura di Desa Kedung Jaya, Kecamatan Babelan.

Reporter: K. Sasmita

Komentar